MEMANEN DAN MENGOLAH AIR HUJAN MENJADI AIR ALKALI SIAP MINUM

Tri Budi Utama

Abstract

PENDAHULUAN
Indonesia adalah negeri tropis yang dikaruniai curah hujan yang melimpah, tidak ada satu wilayah pun di negeri ini yang tidak dicurahi oleh hujan. Tentu dengan intensitas yang sangat bervariasi, dari sekitar 500 mm/thn sampai dengan 4.000 mm/thn. Namun potensi yang melimpah ini belum banyak dimanfaatkan sebagai sumber air minum yang sehat.

Memanen air hujan (rain harvesting) telah banyak dilakukan oleh masyarakat di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia sejak lama, terutama di wilayah yang mengalami kesulitan air minum seperti di daerah kering dan di daerah rawa gambut. Namun cara memanen air hujan tersebut pada umumnya masih secara tradisional dan kurang hygienist.

Dalam studi kasus ini diperkenalkan cara memanen air hujan secara hygienist sekaligus pengolahan nya menjadi air alkali (basa) siap minum. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan ketahanan air bagi masyarakat, mengatasi kekeringan, sekaligus penghematan belanja air minum dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Untuk memanen dan mengolah air hujan diperlukan 2 (dua) set alat yang terpisah, yaitu 1 unit pemanen air hujan dan 1 unit alat elektrolisa air sederhana
Hujan dipanen dari atap rumah yang dikumpulkan melalui talang air, sebelum masuk ke bak penampungan air hujan melalui 3(tiga) kali peyaringan. Yang pertama adalah penyaring daun dan partikel kasar lainnya, berupa pipa PVC yang dipotong miring 45derajad dan ditutup dengan kawat kasa. Saringan kedua berupa pipa pembuang untuk menampung hujan yang turun diawal, dimana hujan awal tersebut masih mengandung partikel lembut yang menempel pada atap. Kapasitas saringan kedua ini dibuat 1-3 liter/m2 atap, tergantung kondisi atapnya. Saringan ketiga berupa dacron/ filter aquarium yang dipasang pada tutup tangki. Selanjutnya tangki air hujan harus ditutup rapat agar tidak ada kotoran atau binatang yang masuk ke dalam tangki.
Air yang hujan yang tertampung di dalam tangki setelah melalui 3 kali penyaringan tersebut sudah sangat bersih, dengan TDS (total dissolved solid) kurang dari 10 ppm. Volume tangki dapat disesuaikan dengan kebutuhan air minum selama musim kemarau.
Air hujan diolah dengan unit elektrolisa air sederhana, berupa bejana berhubungan dengan elektroda yang dialiri arus listrik searah (DC). Bejana berhubungan bisa terdiri dari 3 bejana, 2 bejana, atau 1 bejana besar dengan bejana kecil didalamnya. Masing-masing bejana dipisahkan dengan membran semi permeable atau filter kapas padat. Elektroda berupa logam titanium dengan variasi kawat titanium, mesh titanium dan lempengan titanium. Titanium dipilih karena sebagai penghantar arus listrik yang baik dan tidak korosif pada kondisi air asam.
Hasil elektrolisa berupa air dengan PH tinggi (PH 8, 5-10,5 sesuai kebutuhan) pada bejana dengan kutub negatif (katoda) dan air dengan PH rendah (PH 3-4) pada bejana dengan kutub positif (anoda). Pada katoda TDS turun sedangkan pada anoda TDS naik. Air dengan PH tinggi (air basa/ alkali) ini langsung bisa dikonsumsi sebagai air minum yang menyehatkan, karena disamping PH nya tinggi juga TDS nya sangat rendah.

Keywords

panen hujan, elektrolisa, alkali, air minum

Refbacks

  • There are currently no refbacks.